Kebahagiaan seorang nenek tidak selalu ditandai dengan hal besar atau kemewahan. Ia hadir pelan, tumbuh dari rutinitas sederhana yang dijalani dengan sabar. Pagi hari dimulai dengan menyapu halaman, menyiapkan air hangat, lalu duduk sejenak menikmati udara sambil mengingat hari-hari yang telah berlalu. Wajahnya mungkin dipenuhi kerut, namun di sanalah tersimpan perjalanan panjang tentang cinta, kehilangan, dan keteguhan.
Baginya, kebahagiaan adalah ketika anak-anaknya pulang dengan selamat, cucu-cucunya tertawa riang, dan rumah terasa hidup meski sederhana. Ia bahagia saat bisa memberi, meski hanya sepiring makanan hangat atau nasihat pelan yang keluar dari pengalaman hidup. Doa-doanya mengalir tanpa henti, dipanjatkan dalam diam, sebagai wujud kasih yang tak pernah menuntut balasan. Di usia senja, kebahagiaan seorang nenek adalah rasa cukup—merasa berguna, dicintai, dan tetap dibutuhkan.